VIVAnews - Sejak tahun 1998 hingga 2007, tiga orang lenyap tenggelam mendadak di Great Kali River, sungai yang melintang di perbatasan antara Nepal dan India utara. Hal ini sangat aneh karena kawasan itu bukanlah habitat buaya dan predator air lain.
Terakhir, dari saksi mata yang melihat kejadian, seorang anak terlihat diseret ke dalam air oleh sesuatu yang tampak seperti babi berukuran panjang. Setelah itu, korban tidak pernah terlihat lagi, hidup atau mati. Demikian pula sisa-sisa tubuh ataupun pakaiannya.
Kasus-kasus itu memicu Jeremy Wade, biolog asal Inggris untuk mengamati apa yang ada di dalam sungai tersebut. Pasalnya, serangan hanya terjadi di kawasan tertentu, sepanjang sekitar 6 sampai 8 kilometer. Kawasan itu, menurut keterangan penduduk, merupakan kawasan di mana mereka biasa melarungkan jasad saudara-saudara mereka yang telah meninggal setelah dibakar.
VIVAnews - Keajaiban laut terbelah mirip yang terjadi pada kisah nabi Musa terjadi di Jindo, Korea Selatan. Bedanya, laut 'terbelah' di negeri ginseng itu merupakan fenomena alam yang terjadi akibat pasang surut air laut.
Seperti dilansir dari laman asiarooms, sebuah hamparan tanah dengan panjang sekitar 2,8 kilometer dan lebar 40 meter akan terbuka akibat surutnya air laut pada waktu-waktu tertentu. Saat-saat kejadian tersebut biasanya dikunjungi orang-orang dalam jumlah besar. Sebuah festival khusus didedikasikan untuk memperingati kejadian alam yang merupakan fenomena unik di Korea Selatan tersebut.
VIVAnews - Kapal Enterprise itu berputar. Mengitari planet jingga yang diselimuti awan tipis. Nama planet itu Fotialla. Setelah agak dekat, Kapten James Kirk turun ke permukaan. Sang komandan meluncur dengan teknologi teleportasi. Sementara, kemudi kapal diambil alih Mr Spock.
Yang mereka tahu, Fotialla atau planet M-113, adalah planet tua dengan peradaban yang telah mati. Faktanya tidak. Mereka diserang oleh alien buruk rupa yang mampu bersalin wajah seperti manusia. Bahkan alien menyelusup ke dalam Enterprise dan menewaskan beberapa kru kapal.
Ini bukan kisah nyata, melainkan salah satu adegan Star Trek dalam episode 'The Man Trap'. Semua kejadian fiksi itu digambarkan terjadi tahun 1513.1. Di skenarionya, Fotialla dikategorikan sebagai Planet kelas-M. Planet jenis ini memiliki atmosfer dengan kandungan oksigen, nitrogen, dan air yang berlimpah.
VIVAnews - Musibah bisa terjadi di waktu yang tak terduga. Bahkan di saat liburan. Itulah yang dialami Rachel Devine saat berlibur dengan kekasihnya di Turki, pada pertengahan tahun lalu. Gara-gara tak menyadari dirinya alergi terhadap satu makanan, liburan itu nyaris merenggut nyawanya.
Waktu itu, saat menikmati hangatnya matahari Turki, gadis berusia 25 tahun asal Irlandia ini dan kekasihnya, Chris Mee membeli es krim untuk menyejukkan dahaga. Setelah satu suapan, tiba-tiba Rachel merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Bibirnya membengkak, dan ia menjadi sulit bernapas, seperti dikutip dari laman The Sun.
AMWS.COM - Anda sering kirim SMS ke nomor tertentu, untuk mengikuti kuis atau polling sebuah program acara tertentu..? Bila memang iya, coba pikir ulang lagi, karena Amws menilai hal tersebut hanya akan membuang pulsa atau uang anda.
Bayangkan berapa yang diterima oleh pihak penyelenggara dari SMS-SMS yang anda kirim. Sebagai ilustrasi bila SMS yang terkirim dari 1 program acara misalnya 100.000 SMS maka penyelenggara akan menerima (bila harga per SMS Rp. 2.000) pendapatan Rp 2.000 x 100.000 = 200.000.000, bila dari Rp. 2.000 itu penyelenggara dapat Rp. 1.500( misalnya Rp. 500 untuk operator seluler), maka penyelenggara akan mendapat Rp. 1.500 x 100.000 = 150.000.000.

Biasanya penyelengga akan menyediakan hadiah (agar menarik orang untuk mengirimkan SMS), diasumsikan hadiah senilai Rp. 10.000.000 maka penyelenggara akan mendapat Rp. 140.000.000 satu nilai yang mengiurkan bukan..? dan perlu kita ingat SMS yang terima bisa lebih dari 100.000 SMS, apalagi ditunjang oleh sebuah program acara yang menarik dan istimewa.
Memang hal ini merupakan hal yang wajar bila kita melihat dari sisi industri yang mencari keuntungan, tapi Amws melihat ada beberapa program dalam penyelenggaraannya kurang Etis seperti menarik anak-anak untuk mengirimkan SMS, atau mencari Juara dari sebuah acara dari banyaknya SMS dukungan dengan tentu saja proses untuk mendapatkan pemenang (yang mendapat dukungan SMS terbanyak) dilakukan secara bertahap (agar pengumpulan SMS makin maksimal), tanpa ada penjelasan atau transparasi kebenaran perolehan SMS. Karena secara logika seharusnya cukup dengan 1 kali pengumpulan dukungan SMS bisa diketahui siapa yang menjadi pemenang atau yang menjadi pilihan.
Disini yang menang bukan di tentukan dari kualitas tapi lebih ke seberapa banyak peserta dapat menarik kita untuk mengirimkan SMS.