Tampilkan postingan dengan label israel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label israel. Tampilkan semua postingan
bee

Eramuslim.com - Pusat Studi tahanan Palestina menyatakan bahwa pihak administrasi penjara pendudukan Zionis Israel telah memaksa para tawanan Palestina keluar pada pukul 1 siang (waktu istirahat), tanpa memperhitungkan panas tinggi selama bulan suci Ramadhan, khususnya di penjara-penjara di gurun pasir Negef .

Salah seorang tawanan bernama Tawfiq Abu Naim menyatakan bahwa para tahanan telah menuntut agar sipir penjara untuk menunda selama dua jam waktu istirahat diluar sel tahanan untuk memotong panas matahari, tetapi pihak administrasi penjara Israel menolak permintaan ini.

Sementara itu, Direktur Pusat Studi tahanan Rafat Hamduna mengatakan bahwa pihak administrasi penjara pendudukan Israel telah melecehkan tahanan muslim, terutama dalam hal ibadah, seperti shalat Tarawih, dan mereka juga dipaksa untuk berdiri ketika saat membaca Alquran.

Dia menekankan bahwa harus ada solidaritas yang serius dari lembaga-lembaga HAM untuk menghentikan praktek-praktek tidak manusiawi yang dilakukan penjara Israel terhadap para tahanan Islam

bee


Sudah mendarah daging dalam diri kita bahwa israel dan dunia barat adalah musuh yang terus memerangi islam. Walaupun dalam berbagai kesempatan mereka selalu berkoar-koar islam bukanlah musuh, tetapi secara sembunyi-sembunyi terus mengadakan propaganda untuk merusak citra islam di mata dunia.

Dalam kunjungan kenegaraan ke Indonesia beberapa tahun silam, dihadapan masa ormas islam, Presiden Iran Mahmud Ahmad Dinejad mengatakan sesungguhnya musuh yang nyata sudah nampak di mata kalian yang terang-terangan memusuhi islam adalah dunia barat dengan kroni-kroninya (zionis). Umat islam tidak akan gentar karena setiap dalam diri pemuda islam adalah nuklir bagi dunia barat. Omongan itu bukan sambal gertak semata.

Seorang dedengkot yahudi dalam statemennya mengatakan bahwa satu hal yang kami takuti dalam islam yang menjadi ancaman suatu hari mendatang. Sesuatu yang membuat kami selalu merasa dalam ancaman dan ketakutan. Hal itu adalah persatuan islam di seluruh dunia seperti yang kalian tunjukan diwaktu sholat berjamaah.

Dalam Al Qur'an Allah SWT berfirman: "Dan apabila kamu berada bersama mereka lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu dan menyandang senjata,..." (QS. 4:102).

Rasulullah SAW bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku bermaksud hendak menyuruh orang-orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh seseorang menyerukan adzan, lalu menyuruh seseorang pula untuk menjadi imam bagi orang banyak. Maka saya akan mendatangi orang-orang yang tidak ikut berjama'ah, lantas aku bakar rumah-rumah mereka." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA).

Dari Ibnu Abbas RA berkata: "Saya menginap di rumah bibiku Maimunah (isteri Rasulullah SAW). Nabi SAW bangun untuk shalat malam maka aku bangun untuk shalat bersama beliau. Aku berdiri di sisi kirinya dan dipeganglah kepalaku dan digeser posisiku ke sebelah kanan beliau." (HR. Jama'ah, hadits shahih).

Umat Islam harus saling menjaga dan menghormati satu sama lain. Perbedaan dalam hal-hal yang tidak prinsip, tidak boleh menjadikan kelompok umat Islam yang satu membenci apalagi menghujat kelompok lainnya. “Yang berjanggut panjang maupun yang janggutnya dibonsai, yang pakai celana setengah kaki maupun tiga perempat kaki, yang pakai jilbab lebar maupun jilbab modis, yang berbusana putih-putih maupun warna lainnya, semauanya adalah saudara. Kita harus menjaga persatuan dan kesatuan umat,” Inilah gambaram ketakutan yang benar-benar menjadi ancaman dunia barat dan kroni-kroninya.

Perbedaan sekecil apa pun,bila disikapi dengan jiwa kerdil,dada sempit,sikap egois, dan mau menang sendiri,pasti akan mendatangkan perpecahan dan malapetaka. Apalagi kalau perbedaannya besar,sudah pasti hancur lebur. Sebaliknya, perbedaan sebesar apa pun, kalau disikapi dengan jiwa besar, dada lapang, sikap tafâhum, dan saling hormat, insya Allah tidak akan menimbulkan perpecahan.

sumber : blak-blakan.com
bee
era muslim.com - Robert Harush pengusaha Yahudi yang dibesarkan di Ashkelon menghabiskan banyak uang untuk merenovasi masjid besar umat Islam di Montereau, dalam upaya dirinya untuk mempromosikan toleransi beragama.

Seorang penduduk Ashkelon yang menghasilkan banyak uang dalam bisnis real estat di Eropa, memutuskan untuk membiayai secara penuh pembangunan sebuah masjid di Prancis untuk kepentingan komunitas Muslim setempat.

Robert Harush (58 tahun), ayah dari empat anak ini besar di Ashkelon dan telah menyelesaikan dinas militer mencoba keberuntungannya dalam bisnis real estate di Eropa. Keberhasilannya telah memenangi banyak tender pembangunan hotel dan gedung-gedung mewah yang diperkirakan bernilai ratusan juta dolar.

Meskipun sukses, Harush tidak lupa terhadap kampung halamannya dan telah kembali ke Ashkelon dan berinvestasi dalam usaha bisnis real estate lokal. Selama 10 tahun terakhir ia telah membagi waktunya antara Israel dan Perancis.

Pengusaha kaya ini bahkan memilih untuk tinggal di kota selatan selama Operasi Cast Lead . Dia tetap di Israel bahkan setelah roket Grad mendarat di dekat rumahnya.

Dia baru-baru ini didekati oleh walikota Montereau, sebuah kota dekat Paris Perancis, yang memberitahukan adanya kesulitan dalam pembiayaan renovasi sebuah masjid besar di kota.

"Saya berkata pada diriku sendiri di sini lah kesempatan untuk membawa orang bergabung bersama-sama dan saya memutuskan untuk menyumbangkan uang untuk pembangunan masjid tersebut," kata Harush.

"Orang-orang tercengang. Apa yang dilakukan orang Yahudi-Israel dengan membantu menyumbang untuk membangun masjid? Jawabannya sederhana: Saya sudah muak dan lelah. Suara dari orang-orang yang waras harus muncul."

Harush menjelaskan bahwa ia membangun masjid dalam rangka untuk mempromosikan toleransi. "Ini bukan usaha murah tapi saya lakukan dengan sepenuh hati."

Para pemimpin komunitas Muslim Montereau telah mengucapkan terima kasih kepada Harush atas bantuannya merenovasi masjid dan meminta supaya menjaga hubungan yang hangat dengan dia.

Pengusaha itu, tidak tertarik hanya cuman mendukung komunitas Muslim dan ia telah membiaya pembangunan salah satu sinagog terbesar dan paling megah di Asheklon tahun lalu, yang bernama mendiang ayahnya.

"Saya sendiri bukan orang yang religius tapi saya merasa bahwa harus ada langkah politis yang dilakukan pengusaha untuk membawa bersama-sama saling toleransi antara orang-orang Yahudi dan Arab, sekuler maupun relijius."

Belum ada tanggapan dari ulama-ulama Islam terkait pembangunan masjid yang dibiayai sepenuhnya oleh pengusaha Yahudi Israel ini. Apakah sah shalat di dalam masjid tersebut atau tidak, mungkin akan jadi perdebatan panjang terkait hal ini.
bee
Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “potongan” itu “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.

Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel tidak mampu.
Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.

Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.

Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.

Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.

Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”.

Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnahs, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.

Wartawan kami, Thoriq, merangkum kisah-kisah “ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk para pembaca yang budiman. Selamat mengikuti.


Pasukan "Berseragam Putih" di Gaza

Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.

Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.

Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.

Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.

Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”

Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”

Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki.


SuaraTak Bersumber

Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).

Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.

“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi.

Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.

Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.

“Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.

Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesualu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi, melalui lidah khatib.

Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan, “Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”

Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.

Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis. “Kenapa kalian menangis?” tanyanya.

“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya

Saksi Serdadu Israel
Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal serupa.

Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Channel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.

“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta,” kata anggota pasukan ini.

Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.

Masih dari Channel 10, seorang Lentara Israel lainnya mengatakan, “Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”

Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel 10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu?


Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh
Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.

Sebuah kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu.

Untunglah para mujahidin selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.

Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.

Apa daya, kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas ranjau.

Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga lidak memiliki kesempatan serupa.”

Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.

Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan lersebut, para mujahidin segera melihal lokasi ledakan. Sungguh aneh, ternyata seluruh ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnva ledakan? Wallahu a’lam.

Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah sebelahnya, para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak terkendali.

Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa,”Wahai Dzat yang merubah api menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan kekuatan-Mu.”

Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para niujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa Ta’ala (SWT) telah memberi pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.
bee
EraMuslim.com - Seorang pemuda Palestina berumur 17 tahun ditangkap oleh Polisi Afula Senin pagi kemarin (26/4) setelah mengatakan kepada penjaga keamanan di pintu masuk bahwa ia dikirim masuk ke kota "untuk membunuh orang-orang Yahudi".

Pemuda yang merupakan penduduk Tepi Barat tersebut diserahkan ke polisi rahasia Israel Shin Bet untuk di interogasi.

Pemuda Palestina ini tiba di kantor polisi sekitar pukul 2 pagi, dengan membawa pisau besar yang ia simpan dalam kantong plastik. Penjaga keamanan dan tentara yg sedang berjaga di pintu masuk stasiun bertanya apa yang sedang ia lakukan di sana.

"Pemuda Palestina itu tanpa ragu mengatakan kepada mereka bahwa ia dikirim untuk membunuh orang-orang Yahudi," kata Inspektur Aryeh Elkobi, yang memimpin interogasi di stasiun dan departemen intelijen, kepada Ynet.

Dengan cepat polisi menggeladah pemuda Palestina tersebut dan menemukan sebuah pisau, dan pemuda itupun ditangkap. Dia mengatakan kepada polisi, dia dikirim ke Afula malam itu oleh orang yang polisi sebut sebagai "orang yang penuh permusuhan". Dan ternyata pemuda Palestina itu pernah ditahan beberapa waktu yang lalu karena secara ilegal berada di wilayah Israel.

"Sebuah bencana dapat dicegah malam ini," kata Elkobi. "Mungkin jika anak itu tidak ditahan, ia akan berhasil dalam melaksanakan rencananya."

Polisi meyakini bahwa pemuda itu datang ke polisi karena dia masih takut untuk melakukan misinya. Dia mengatakan kepada petugas sewaktu di interogasi bahwa ia datang ke Israel beberapa hari lalu, dan ke Afula hanya beberapa jam sebelum kedatangannya di stasiun.