Tampilkan postingan dengan label sensus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sensus. Tampilkan semua postingan
bee
VIVAnews - Petugas sensus penduduk tercengang alang-kepalang saat mendapati seorang kakek di Lebak, Banten. Kenapa gerangan? Kakek itu bukan sembarang kakek. H. Sargani, begitu namanya, mengaku sudah berusia sekitar 146 tahun.

Ya, dia mengaku berumur 146 tahun!

Sargani, warga kampung Makam Jepang, di Desa Bungur Mekar, Lebak, bahkan masih kuat berdiri. Tak cuma itu, meski usianya sudah supersepuh, dia masih aktif bicara dan belum pikun. Pendengarannya pun masih normal sehingga petugas sensus tak terlalu sulit menanyainya.

"Dari data yang kami miliki, H. Sargani lahir di tahun 1865," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Lebak, Dadang Ahkdiyat, Selasa malam, 1 Juni 2010. Data itu memang hanya didasarkan pada pengakuan Sargani, bukan pada akta tertulis. Maklum saja, jika ingatan si kakek masih valid, saat dia lahir tentu kantor catatan sipil belum satupun yang berdiri.

Kalau itu benar, pengakuan Sargani bisa menggegerkan. Soalnya, manusia tertua yang pernah hidup di dunia adalah Jeanne Calment. Telah diverifikasi secara ilmiah, nenek asal Prancis ini 'hanya' berumur 122 tahun 164 hari dan meninggal 4 Agustus 1997 silam. Artinya, Sargani 24 tahun lebih tua dan rekor dunia harus segera diubah.

Boleh percaya boleh juga tidak, saat ditemui wartawan VIVAnews di kediamannya, Sargani menuturkan saat Gunung Krakatu meletus pada tahun 1883 dia sudah berusia kurang lebih 18 tahun. "Waktu Gunung Karakatu meletus saya sedang berada di kebun," katanya. Semasa perang kemerdekaan, sebelum Indonesia diproklamirkan, dia juga mengaku ikut berjuang mengusir penjajah dari bumi Banten. "Saya gerilya mengusir Belanda, dibantu Jepang," ia mengingat-ingat. Artinya, paling tidak ketika itu dia sudah sekitar 77 tahun. Hmmm... Anda percaya orang seumur itu masih kuat berperang?

Sekali lagi, percaya boleh, tidak juga boleh.

Ia juga mengaku punya 'jam terbang' yang teramat panjang dalam berumah tangga. Sargani menerangkan ia adalah seorang ayah beranak 12, kakek dari 63 cucu, dan buyut dengan 52 cicit. Kalau istri? Ada lima orang. Kelimanya, kata si kakek, dia nikahi secara estafet karena meninggal dunia. Istri terakhirnya, Rukoyah, sudah berumur sekitar 90 tahun dan tak bisa beraktivitas normal sejak beberapa tahun lalu. Anak bungsunya bernama Jaenal Abdini, kini telah berusia 48 tahun. Ini menarik. Itu artinya, si kakek punya tingkat kesuburan yang dahsyat. Di usia 97 tahun ia masih bisa membuahi istrinya. Sargani juga mengatakan dikaruniai kesehatan yang luar biasa. Selama ini dia tak pernah sakit berat, sehingga kakinya tak pernah sekalipun menyentuh lantai rumah sakit. Satu-satunya kendala fisik dia sekarang cuma ini: matanya rabun.

Lalu, apa rahasia Sargani panjang umur?

Dia pantang merokok dan minum kopi. Kegemarannya adalah minum susu kental manis atau makan buah segar yang dibeli dari pasar atau dipetik langsung dari kebun.

Sepuluh kakek lain

Yang menarik, saat melakukan pendataan di lapangan, tim sensus BPS konon mendapati ada 10 kakek lain berusia di atas 100 tahun yang tinggal tersebar di Lebak. Untuk memastikan kebenarannya, kata Dadang dari BPS, temuan itu sedang dicek silang melalui wawancara mendalam, langsung dengan yang bersangkutan.

"Orang-orang lanjut usia itu masih normal dan mampu mengingat nama anak dan kejadian sejarah yang dialaminya," kata Dadang.

Untuk memastikan umur seseorang secara ilmiah, Dadang bilang memang diperlukan uji forensik. Hanya saja sampai saat ini hal itu belum pernah dilakukan karena keterbatasan sumber daya. Namun, ia berjanji akan segera melaporkan temuan ini kepada kantor pusat BPS.

Hasil sensus yang berakhir pada 31 Mei lalu akan divalidasi pada Juni-November 2010. Laporan final akan dipublikasikan akhir Desember atau awal 2011.

Jadi, baru di saat itu akan lebih terang apakah Sargani cuma salah ingat atau ia memang seorang kakek yang diberkahi panjang umur.

bee

(ANTARA) - Petugas Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menemukan seorang pria bernama Nur berusia 120 tahun saat melakukan sensus penduduk tahun 2010 di Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi beberapa waktu lalu.

"Pada awalnya, warga tersebut mengaku usianya mencapai 160 tahun. Namun, setelah diteliti oleh petugas di lapangan, ternyata usia Nur 120 tahun," kata Penanggungjawab Humas dan Pengolahan Data BPS Kabupaten Sukabumi, Anwar Hidayat, di Sukabumi, Jumat.

Nur tinggal di daerah pedalaman Sukabumi yang lokasinya sangat jauh, bahkan berada dalam suatu komunitas yang diduga mempunyai bahasa tersendiri, kata Anwar.

"Untuk memastikan usia Nur, maka kami akan melakukan pengecekan lebih lanjut, salah satunya dengan mengecek keturunan Nur mulai dari anak-anak hingga cucunya," katanya.

Selain itu, pihaknya juga akan mengecek kemampuan wawasan Nur tentang peristiwa-peristiwa zaman dahulu.

"Kedua faktor tersebut nantinya akan menentukan kebenaran dari pengakuan Nur kepada petugas SP," katanya seraya mengatakan selain Nur ada warga Sukabumi lainnya yang mengaku berusia 116 tahun di Kecamatan Bantargadung.

Sensus Capai 93 Persen

Hingga tanggal 14 Mei proses SP 2010 di Kabupaten Sukabumi telah mencapai sekitar 93 persen atau menjangkau 2,2 juta orang penduduk.

"Berdasarkan `listing` SP, jumlah penduduk di Kabupaten Sukabumi diperkirakan mencapai 2,4 juta hingga 2,5 juta," kata Anwar.

Menurut dia, proses pelaporan data dari petugas di lapangan masih terus berlangsung dan dirinya optimistis sampai batas akhir pelaksanaan SP tanggal 20 Mei 2010 semua warga Kabupaten Sukabumi telah terdata.

"Hasil sensus ini nantinya akan dilaporkan ke BPS Provinsi Jawa Barat," katanya.

Di tempat yang sama, Kepala BPS Kabupaten Sukabumi Bambang Subroto mengatakan adanya warga Sukabumi yang berusia di atas 100 tahun akan diteliti lanjut karena saat ini BPS masih fokus pada tugas utama menyelesaikan proses SP di 47 kecamatan Sukabumi.

"Kami ke sana untuk mengecek kebenarannya, sehingga data yang diperoleh benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan," katanya.

Ia menambahkan, pelaksanaan SP 2010 di Kabupaten Sukabumi dengan melibatkan 5.132 orang petugas belum menemukan hambatan yang berarti.

"Semua warga mendukung pelaksanaan sensus dengan memberikan data yang akurat. Memang ada beberapa kendala karena geografis Sukabumi yang luas, namun semua itu bisa diatasi dengan baik," ujarnya.